Waktu naik gunung pertama kalinya beberapa waktu lalu ke gunung prau. Dalam persiapan dan perjalanannya saya mengalami beberapa hal konyol yang sampai sekarang terus hinggap dikepala saya dan rasanya sayang banget bila tidak saya abadikan dalam bentuk tulisan. Mungkin itu bisa jadi pengingat untuk teman-teman yang akan mendaki gunung terutama bagi kalian yang merasa sebagai seorang pemula. Apabila kalian masih ragu untuk naik gunung dan mengexplore keindahan alam pegunungan aku rasa ada baiknya segeralah lakukan kegiatan tersebut (naik gunung) selagi kalian memiliki waktu luang, karena cerita selama perjalanannya sungguh menjadi hal yang mungkin tidak akan kamu lupa. Ada beberapa kejadian yang cukup membuat saya tersenyum bahkan tertawa mengingatnya, mungkin juga hal tersebut pernah atau merasakan hal yang sama dengan apa yang aku lalui.

  1. Peralatan Masak dan Makan

Persiapan perjalanan tinggal menghitung hari tapi masih ada beberapa peralatan yang belum kita dapatkan entah dari meminjam atau menyewa peralatan outdoor, salah satunya adalah kompor untuk masak pada saat kemah di atas. Sampai tengat waktu pengumpulan barang kita tidak berhasil mendapatkan alat tersebut, karena kepepet kompor masak portable yang dimiliki salah satu teman di kosan dibawa untuk memasak diatas gunung.  Bentuknya yang persegi serta memakan banyak tempat di tas carrier membuat kami tertawa ketika mengeluarkan alat masak tersebut diatas gunung. Jadilah segelintir orang yang melihat kami merasa lucu ketika membawa kompor portable untuk naik gunung. Bahkan saya pun masih sering tertawa kalo teringat bawaan itu.

Lain halnya dengan alat makan, Bagi kalian yang akan pergi naik gunung ada baiknya periksa kembali secara seksama alat-alat makan yang akan kalian bawa dan jangan bermain dengan perasaan kalian. “perasaan tadi udah saya masukin ke carrier”. Ketika kata-kata tersebut sudah ada di benak kalian, lebih baik kalian cek kembali barang yang akan dibawa. Apabila kalian salah dengan perasaan kalian bisa terjadi hal seperti yang saya alami yaitu tertinggal alat untuk makan (sendok/garpu). Alhasil saya muter-muter mencari ilalang yang cukup kuat untuk dijadiin sumpit buat makan mie instan. Begitu pun dengan wadah makanan yang saya bikin dari botol air mineral untuk dijadikan wadah mie instan. kalo bahasa kerennya kami hanya mencoba bertahan hidup dengan memanfaatkan alam agar kami tidak kelaparan selama berada di gunung.

  1. Tas Carrier dan Baju ganti

Membawa tas yang nyaman dan mendukung untuk memasukan semua perlengkapan mendaki adalah hal yang mendasar. Mungkin sebagian kalian tidak mempercayai bahwa beberapa temen saya mendaki gunung prau membawa tas laptop. Awalnya mungkin memang tidak ada carrier atau daypack atau tas yang sporty untuk dibawa oleh temen saya naik gunung. Akhirnya pepatah “tidak ada rotan akar pun jadi” ini bermanuver dengan cukup ekstrim dan menjadi sesuatu yang nyata!. Buat saya ini adalah salah satu hal yang cukup konyol ketika ada orang mendaki gunung bawa tas laptop. (hehehe)

Hal lain yang tidak kalah penting adalah baju ganti, Karena ketika kita berada di gunung suhu udara diatas gunung cukup dingin maka disarankan ketika badan berkeringat karena mendaki segeralah ganti pakain kalian agar tidak terserang hipotermia. Usahakan baju yang kalian gunakan senyaman mungkin. Tapi, ada kejadian lagi dimana teman saya mendaki membawa baju ganti bukan kaos atau sweater malahan dia membawa kemeja sebagai baju gantinya. Memang ukuran kenyamanan setiap orang berbeda tapi menurut pendapat saya lumayan lucu aja hehehe…

  1. Estimasikan waktu dengan baik

Waktu menjadi acuan yang sangat penting ketika akan melakukan pendakian. Jangan sampai persiapan kalian sebelum berangkat terbengkalai akibat waktu yang mepet sehingga menimbulkan adanya barang yang tertinggal atau jadwal pendakian yang molor waktunya. Ketika ingin mendaki gunung prau semula saya janjian jam setengah 4 sore berangkat dari purwokerto tapi karena ada sebagian teman yang masih terjebak dalam kelas, ada juga yang cukup ngeselin dengan keleletannya dalam menyiapkan barang bawaan. Akhirnya saya baru jalan pukul 5 sore dan dengan segala macem sprintilan perjalanannya baru tiba di basecamp jam setengah 10 malam. Alhasil saya cuma sempat tidur kurang lebih 1 jam-an. Ini sangat membahayakan kondisi badan kalian ketika akan berjalan menuju rumah, terlebih bila kalian mengendarai kendaraan bermotor.

  1. Fisik yang cukup kuat

Mendaki memang bukan hal yang mudah. Tidak peduli apakah badan kamu besar, kecil, berotot, bergelambir, daging semua atau bahkan tulang semua (okey, agak lebay nampaknya). Fisik yang akan kamu bawa ketika berjalan mendaki harus sehat. Mungkin hal yang bisa kalian lakukan beberapa hari sebelum mendaki adalah dengan jogging atau olahraga kecil tapi jangan over workout juga. Ada kasus dimana ketika beberapa jam sebelum naik gunung ada teman saya malah melakukan fitness secara berlebihan, alhasil begitu melakukan pendakian di medan yang cukup terjal dia sempat sangat kelelahan. Ada juga ketika diberi tahu untuk olahraga kecil malah tidak melakukan sama sekali, ketika baru menaiki beberapa anak tangga langsung mengacungkan tangan minta istirahat.

  1. It’s all about team work

Meski baru pertama kali naik gunung, kalian tidak akan pernah melupakan kerja sama tim selama kalian bersama melakukan pendakian. naluri kalian untuk membantu sesama manusia nampaknya kembali menemukan tempatnya dalam perjalanan ini. Namun, tetap saja sedikit bumbu-bumbu ke-egois-an seorang manusia tidak pernah bohong dan menjadi hal yang lucu. ada teman saya dari awal sebelum berangkat sudah membuat ulah. mengulur waktu perjalanan, drama selama perjalanan (baper), yang lain makan cokelat satu gigit dia satu bungkus sendiri, disuruh menjaga tas malah ditinggal dengan alasan ingin membantu mendirikan tenda, pada kenyataannya juga tidak cukup membantu. Tapi bila dia tidak ada, saya tidak dapat berfoto bersama teman saya yang lain (ada manfaatnya disuruh fotoin) atau tidak mungkin ada kejadian orang yang jatuh jungkir balik ketika turun.  Setiap kita yang tergabung kedalam sebuah tim pasti memiliki peran entah sebagai pemeran utama atau pemeran pendukung yang jelas kita berada didalam sebuah tim untuk mencapai tujuan bersama.

Saya berterima kasih secara khusus kepada keluarga kutilang (teman” kos sekaligus teman mendaki) yang membuat memori itu gak terlupakan dalam hidup saya. Mungkin hal-hal diatas pernah dialami oleh teman pendaki atau (jangan sampai) dialami oleh teman-teman yang akan mendaki. Sesungguhnya kita tidak akan pernah mengetahui apa yang akan terjadi dalam sebuah perjalanan, intinya nikmati setiap momen perjalanan yang akan kalian lakukan dengan indah dan tak terlupakan.

Jadi kapan kita akan bertualang lagi, guys ?

 

 

Salam Hangat,

Rifqi Mochtar Latif

 

Naik Gunung: 9-10 April 2014

Ulasan: 12 Februari 2016

6 thoughts on “5 Hal yang Tak Terlupakan Saat Mendaki Gunung”

    1. hahaha iya mas nama kita sama !!! haha terima kasih udah mampir mas, iya itu berdasarkan pengalamanku waktu munggah pertama kali mas haha… follow balik yah mas bila berkenan hehe 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *