“Out beyond ideas of wrongdoing and rightdoing there is a field. I’ll meet you there. When the soul lies down in that grass the world is too full to talk about.” ― Rumi

Ungkapan Rumi diatas adalah hal yang terus terngiang dikepalaku ketika aku duduk mengingat setiap jejak perjalanan yang aku buat bersama kalian. berawal dari kehabisan tiket kereta untuk pulang ke kota halaman. Perjalanan dadakan yang tidak sengaja dibentuk menjadi salah satu memori perjalanan yang sangat menarik untuk terus dibahas. Dan seperti kata Rumi “when the soul lies down in that grass the world is too full to talk about.”

Beberapa hari sebelum libur lebaran idul Adha 2013 aku mencari tiket pulang ke kampung halaman (Jakarta) tapi sial-nya kota tempatku menuntut ilmu (Purwokerto) seolah tak mendukung niatku untuk kembali barang sebentar. Tiket habis. Semua kereta.

Berawal dari kebingunan untuk mengisi waktu ketika libur. Aku bersama dua orang temanku (meinar dan adul) tak sengaja memikirkan ide gila untuk touring ke pangandaran naik motor. Aku bertanya kapan kita akan berangkat ? besok adalah jawaban terbaiknya, mengingat hari itu sudah cukup sore sehingga sisa waktu sampai esok hari digunakan untuk menghubungi teman teman yang kebetulan nggak balik ke kampung halaman. Perjalanan dadakan ini berhasil mengumpulkan 13 orang yang siap berangkat esok paginya. Sungguh gila. Persiapan perjalanan yang cukup mepet. Tapi ini berhasil.

Pukul setengah 7 pagi kami berangkat menggunakan sekitar 7 motor dengan estimasi waktu perjalanan 4-5 jam dari purwokerto. semesta cerah. Mendukung perjalanan kami pagi itu. Kami akan mengunjungi beberapa tempat disana yang telah kami tentukan sebelumnya. Beruntung ada beberapa teman yang memang berasal dari daerah pangandaran dan sekitarnya. Sehingga untuk biaya penginapan, gratis (maklum mahasiswa). Setelah doa bersama kami siap bertualang. Namun, ketika perjalanan sudah memasuki waktu sekitar 2 jam masalah pertama muncul, Motor salah satu teman kami ban-nya bocor, memang hal biasa dalam perjalanan menggunakan motor. Jalur jawa bagian selatan memang sangat menantang jalanan pintas guna memotong waktu yang kami ambil cukup mengerikan, lobang dimana-mana, berpasir, juga berkerikil ditambah kendaraan besar seperti bus dan truk menjadi teman perjalanan kami, tidak boleh lengah sedikit atau nyawa taruhannya. Salah seorang temanku hampir saja tertabrak oleh bus besar beruntung Tuhan masih sayang dan aku juga hampir dicium bus ketika berhenti di tepi jalan sekedar untuk beristirahat (Jangan bermain-main atau lengah ketika dijalan).

here's the 13
here’s the 13

DSC_0426

Sekitar pukul 11, kami tiba disalah satu rumah temanku di daerah pangandaran, lebih tepatnya lebih dekat dengan pantai batu hiu. Kami beristirahat sejenak sambil menikmati makanan yang disedikan,  Lengko namanya salah satu makanan khas daerah pangandaran yang kira-kira isinya bihun, ayam suwir, dan lontong lalu disiram dengan kuah santan yang biasa dijumpai ketika hari raya lebaran tiba (menurutku).

Selepas mengisi perut, perjalanan kami berlanjut. Pantai Batu Karas menjadi sasaran kami setelah menyesuaikan dengan waktu yang menunjukan pukul 2 siang, jangan sampai kelewat malam katanya mengingat jalan yang kita lalui adalah jalur alternatif seperti orang blusukan dan bukan jalur utama. Kami melewati perumahan warga pesisir dan menjumpai beberapa tempat yang belum pulih pasca tsunami yang menerjang beberapa waktu silam. Hal yang paling menarik adalah ditengah tengah perjalanan kami  terpaksa melewati jembatan gantung yang terbuat dari dari bambu dengan penopang besi disetiap ujungnya. Motor yang lewat harus satu-satu tidak bisa secara beruntun melewati jembatan tersebut. Menjaga agar tidak rubuh. Menempuh perjalanan selama 1 jam membawa kami sampai di pantai Batu Karas pukul tiga dan menyisakan waktu sampai pukul setengah 6 sore. Lantas apalagi bila bukan untung menghabiskan waktu dengan bermain&berfoto bersama teman perjalanan ?

on our way to Pantai Batu Karas
on our way to Pantai Batu Karas
Jembatan Gantung
Jembatan Gantung
Batu Karas
Batu Karas
Batu Karas
Batu Karas
Mas botak marah
Mas botak marah
Menjejak Sore
Menjejak Sore
Terjebak malam
Terjebak malam

Pagi sekitar pukul 7 kami bangun dari tidur dan semesta dirundung pilu. Kelabu. Hujan. Mungkin efek dari salah satu teman kami yang dipaksa mengungkapkan perasaan setelah kalah main kartu malamnya. kami menghabiskan waktu malam dengan berbagai macam kegiatan, curhat, makan, main kartu, bergurau sampai pukul 2 dini hari baru semua orang yang ada dirumah melepaskan kelelahan. Itu pula yang menjadi alasan kami terlambat bangun untuk mengeksplore belahan cakrawala lainnya pagi itu. Rencana mencari sunrise di pantai Batu Hiu hanya tinggal rencana…

Hujan berhenti. Kami bergegas pergi dengan tujuan pantai Batu Hiu yang tidak terlalu jauh dari tempat kami menginap. Kami disambut debur ombak yang riang menggema di salah satu sudut pantai Batu Hiu sebagai salam perkenalan. Matahari mengintip malas dari balik dereta awan. Tapi ada satu hal yang luar biasa pagi itu. Bukan hanya matahari yang mulai menyapa tapi Tuhan menggoreskan tinta pelangi di kanvas langit pada pagi itu. bak tak dapat rotan akar pun jadi, kami dapat melihat pelangi pagi itu menggantikan sunrise dari bibir samudera. Puas mematungi guratan alam, kami berjalan kembali ke tempat penginapan dan bersiap untuk pamit pulang ke purwokerto. Eeiiits, tunggu dulu bukan pulang sebenarnya melainkan menlanjutkan perjalanan ke pantai Pasir Putih Pangandaran terlebih dahulu baru kembali ke purwokerto. (hehehe)…

Disambut Matahari Pagi
Disambut Matahari Pagi
menuju petang
menuju petang
Berselancar di pelangi
Berselancar di pelangi
Ada Pelangi di bola matamu
Ada Pelangi di bola matamu
Mas botak & mba Tampu
Mas botak & mba Tampu
Bentang Alam
Bentang Alam
Sudut Batu Hiu
Sudut Batu Hiu
13's
13’s
Terjebak di Mulut Hiu
Terjebak di Mulut Hiu
Gloomy Hiu Stone
Gloomy Hiu Stone
Permadani Sawah
Permadani Sawah
Pencari Nafkah
Pencari Nafkah

Pukul 9, kami bertolak menuju pantai Pasir Putih di pangandaran, berkendara sekitar 2 jam hingga sampai disana pukul 11 siang. Setelah beristirahat dan mengisi perut dengan makanan seadanya. Kami menyewa kapal penduduk yang akan kami tumpangi menyebrang ke pasir putih. Sebelum tawar menawar harga kami mencari teman kami yang memang orang asli pangandaran, alih-alih menekan biaya dengan bahasa warga setempat, akhirnya mampu mengurangi setengah harga perjalanan (biasa… mahasiswa).

Perjalanan menuju pantai Pasir putih memakan waktu hanya 15 menit sebenarnya dengan menggunakan kapal. Namun, ada saja pertanyaan konyol yang dilontarkan salah satu teman kami, “bisa berenang kan pak kesana ?”. aku memilih langsung mengenakan pelampung daripada menanggapi pertanyaan tersebut. Setelah kapal berlayar kami meminta sang nahkoda untuk sebentar berhenti ditengah laut dan berenang sedikit terlebih dahulu, dan itu di-iya-kan oleh bapak nahkoda yang membawa kami.

Sesampainya di pantai Pasir Putih kami langsung berhamburan, mengingat pantai pada saat itu cukup ramai, sebagian dari kami termasuk aku memilih untuk melakukan snorkeling di sekitaran bibir pantai, lumayan, menyapa ikan dan terumbu karang didalamnya. Sebagian lagi puas main air ataupun berfoto ria. berhubung masih ada waktu sedikit sebelum kembali ke purwokerto, kami menyempatkan tracking di sekitaran pantai pasir putih untuk melihat monyet monyet liar dan perjalanan berujung pada tempat dimana kami menyewa kapal tadi. Ternyata hanya jalan memutar dan bisa dilalui dengan jalan kaki !. tapi bagaimana pun kami tidak menyesal akan hal tersebut.

narsis dikit cekrek
narsis dikit cekrek
Ketegangan bercamur senang
Ketegangan bercampur senang
tengah laut
tengah laut
Mendarat dengan aman
Mendarat dengan aman
Snor sampai keling
Snor sampai keling
para pencari mutiara
para pencari mutiara
Jangan Kasih Makan Monyet !!!
Jangan Kasih Makan Monyet !!!
Tracking
Tracking
Tracking
Tracking
Siapa, Anda ?
Siapa, Anda ?
You will know about this, the 13's
You know about this, the 13’s

Setelah membersihkan diri dan membeli beberapa kenang-kenangan dari pangandaran kami melaju motor kami kembali ke purwokerto. perjalanan dadakan yang tak-sengaja-direncanakan menjadi salah satu perjalanan yang paling menarik mengisi guratan perjalananku.  Di awali dengan kutipan, maka aku akhiri kembali tulisan ini dengan kutipan yang sangat menarik dari Muhammad Ali, here’s the quotes…

“Friendship is the hardest thing in the world to explain. It’s not something you learn in school. But if you haven’t learned the meaning of friendship, you really haven’t learned anything.” ― Muhammad Ali.

Terima kasih untuk cerita terbaiknya, tidak ada yang aku harapkan selain kalian selalu dalam keadaan bahagia dengan bermacam-macam kesibukan kalian meraih masa depan.

think to have some trip again? Together? I hope we could, someday. !!!

Noted: ada hal yang kelupaan, kalo kalian akan ke pangandaran jangan lupa masukan Green Canyon di itinerary kalian. Awalnya aku udah masukin tapi karena ada sebagian teman-teman yang percaya dan termakan isu bahwa Green Canyon ada BUAYA dan hal ini diperparah dengan halusinasi seorang teman yang seolah-olah melihat mata buaya ketika melewati aliran sungai Green Canyon (mungkin sebelum berangkat dia kebanyakan makan mushroom dibawah pohon yang lembab) jadilah kami membatalkan rencana untuk mengunjungi Green Canyon.

Salam Hangat,

Rifqi Mochtar Latif

Mengandaran: 13-14 Oct 2013

Ditulis: Jakarta 18 Feb 2016 (Edisi kangen berat touring bergerombol)

11 thoughts on “Ada Pelangi di Matamu… Eeeeh, Pangandaran !”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *