Dibeberapa tulisan lalu, saya mencoba menggunakan bahasa yang berbeda beda, sadar atau tidak kali ini pun saya buat berbeda. Iya. Saya menggunakan panggilan saya untuk diri sendiri. Saya masih mencari yang lebih cocok untuk digunakan dalam menulis di blog ini. Masih mencari bahasa yang sopan untuk panggilan diri sendiri dan teman teman, terdengar klise memang tapi ini seriously matter buat saya, pengennya sih panggilan yang nggak kasar tapi juga ngga formal formal banget. Is it elo-gue sounds nice ? or maybe aku-kamu ? or maybe saya-anda ? semuanya bisa aja digunain sesuai dengan tingkat kehangatan penulisan yang mana yang lebih sesuai. Mungkin akan seperti itu.

Lantas, apa sih yang menjadi pertimbangan bila panggilan aja jadi pertimbangan untuk menulis sesuatu ? toh yang baca pun beragam ?

Jadi begini, waktu itu saya pernah tinggal kurang lebih empat tahun di purwokerto. Sebuah kota yang saya sendiri belum pernah berkunjung sebelumnya, tapi sekalinya kesana langsung menetap selama empat tahun untuk kuliah dan ini diperparah dengan saya gak ngerti bahasa daerah setempat.

Waktu awal-awal tinggal di purwokerto saya lebih memilih untuk menggunakan bahasa formal dalam kegiatan kampus dan membeli makanan-minuman atau hanya sekedar jajan. Tapi ketika bertemu teman dari manapun asal daerahnya saya tetap menggunakan panggilan elo-gue selayaknya saya tinggal di jakarta. Ada beberapa alasan kenapa saya menggunakan panggilan elo-gue, yang pertama buat saya panggilan tersebut serasa lebih akrab, kedua menurut pendapat saya aku-kamu itu kesannya terlalu dekat sekali (padahal sebagian masyarakat itu sopan) tapi engga tau kenapa saya agak risih bila bukan dengan orang terdekat. Yang ketiga toh teman saya tidak ada yang protes dan memaklumi. Ya, sepicik itu saya dulu.

Sampai pada suatu hari, pepatah “dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung” itu benar adanya. Di hari yang lumayan cerah sambil menunggu kelas berikutnya saya dan teman teman berkumpul ngobrol dan bercanda seperti biasanya, lalu ada teman saya yang entah menegur atau hanya bercanda dia bilang begini “Rifqi, kamu di jawa kok ngomongnya gue-elo sih, harusnya aku kamu gitu”.

Nah dengan tingkat ke-sotoy-an saya pada waktu itu saya hanya membalas “elo-gue, aku-kamu, saya-anda, nyong-koe, itu sama aja menurut gue ah gak ada bedanya”

“tapi toh mbok ya ngomong yang halus gitu.” Teman saya membalas.

Pada saat itu i dont mind it, for sure. (masih sotoy)

Tapi, setelah beberapa hari saya lewati ternyata benar, seharusnya saya lebih berusaha menghormati kebudayaan sekitar. Paling tidak saya tidak membawa pengaruh buruk ke daerah tempat dimana saya menjadi pendatang disana. mungkin bagi mereka panggilan “elo-gue” terdengar kasar meski bagi saya itu adalah hal yang biasa.

Kita harus lebih peka terhadap hal-hal yang kita anggap sepele tanpa kita sadari mungkin hal-hal kecil seperti itu dapat membawa perubahan yang cukup buruk untuk lingkungan mereka. Kita hanya pendatang disana, walaupun mereka tidak apa-apa ketika kita menggunakan bahasa daerah kita cobalah untuk menghargai bahasa mereka atau setidaknya bersikaplah atau berbicara secara netral. Sama halnya seperti melakukan perjalanan berbagai tempat yang baru bagi kita. Tetaplah membumi dan saling menghargai.

Jadi menurut kalian ? enakan mana terdengarnya ? aku-kamu, elo-gue, atau saya-anda ?

 

12 thoughts on “Aku-Kamu, Elo-Gue, atau Saya-Anda ? – Tentang Bahasa”

  1. wah, kuliahnya di kota mendoan yak? aku suka kota itu, dingin, kecil, gak terlalu rame…
    dulu waktu kuliah dipanggil loe sama temen2 dr jakarta
    aneh dengernya, katanya justru aku-kamu buat yg pacaran
    tapi lama2 mereka pada manggil aku-kamu wkwkw

    1. haha you got my point mas haha saya juga dulu mikirnya seperti itu. tapi lama kelamaan mikir buat lebih membiasakan diri dengan lingkungan tempat kita tinggal.

      yaps, bagi saya emang purwokerto kota yang sangat loveable hehehe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *