Sabtu dan minggu adalah waktu yang selalu saya dambakan ketika meng-eja hari. Iya, libur iya. Semenjak ada Korporasi yang bersedia menampung saya dan memberi makan saya setiap bulan, secara langsung waktu senin hingga jum’at dihabiskan berkutat dengan berbagai urusan untuk menyambung hidup. Yaampun kaya tragis banget ceritanya ? udah ah.

HAP !

Ketika hari jum’at berakhir rasanya udah gelisah banget karena kaki saya gatel ingin pergi ke suatu tempat yang tidak jauh sehingga menguras banyak tenaga dan uang  waktu karena waktu di tubuh saya masih terus menyesuaikan dengan rutinitas setiap harinya. Tanpa pikir panjang saya langsung WA salah satu saudara saya. Ka windy namanya tapi saya sering panggil beliau kak Bon atau kak win atau kak bon mau kawin ? terserah deh, suka sukanya aja. Intinya saya WA untuk bertanya

“apakah gerangan ada acara di hari sabtu?” (mengingat dia adalah sebagian kecil manusia yang sulit untuk ditemui). Tapi akhirnya gayung bersambut dan siap untuk mengguyur. Beliau kebetulan beliau free dan kami memutuskan untuk mengeksplore salah satu tempat di ujung utara jakarta. Dengan mengumpulkan beberapa pasukan kami sukses merencanakan perjalanan dadakan tersebut.

Pakaian udah rapih dan bersiap jalan setelah jam 12 siang. Entah alam merencanakan apa, jakarta diguyur hujan deras. Sempat tarik ulur antara jadi atau tidak dan akhirnya…

Jadi.

Akhirnya kami berangkat pukul 3 sore dimana selama perjalanan diserbu rentetan hujan bak peluru di film action. Tapi lantunan doa kami terus menerus menggema hingga tepat kita sampai di Pelabuhan Sunda Kelapa, hujan berhenti namun langit masih merenung mendung. Melirik jam di tangan ternyata pukul setengah 5 sore. Akhirnya dengan waktu yang singkat kami usahakan untuk tetap masuk ke dalam area pelabuhan yang seharusnya tutup pukul 5 sore saat itu tapi kami diberi waktu tambahan sampai pukul setengah 6. Sebelum kang begal datang *kata bapak penjaga gerbang masuk.

Saat pertama sampai kami langsung ditawari berkeliling menggunakan perahu oleh abang nahkoda penjaja jasa naik perahu.

“ayo bang naik perahu ngiterin perahu ini sampe ketemu mercusuar tengahan dikit di laut” kata abang nahkoda. Saya langsung berdiskusi dengan team saya dan menanyakan apa mau naik perahu berkeliling, mereka semua meng-iya-kan ajakan saya.

“berapa bang ? keliling sampe sana terus foto-foto, bentar ya ?” tawarku.

“udah, 15rb aja satu orang  bang” jawab pak nahkoda sekenanya.

Aku langsung melirik jam ditanganku. Sudah cukup sore juga sih sedangkan air laut semakin tak tentu tapi aku tetap berpikir dan berusaha menawar. Karena menurutku per orang 15rb masih cukup mahal *dasarpelit*.

Mengetahui kami kelamaan mikir dan berdiskusi pak nahkoda menurunkan harganya. Sungguh disini sabar adalah sebuah pelajaran berharga.

“yaudah 50rb aja deh” kata pak nahkoda.

Aku langsung memicingkan mata seraya berkata dalam hati “heeuuuuh ternyata hanya segitu tingkat kesabaranmu pak nahkoda. Kalo seperti ini akan ku tawar sedikit lagi, pasti kita akan menemukan kata sepakat”. *hahaha

“30 R-I-B-U langsung berangkat kita bang !” sahutku dengan nada riang.

Dan benar saja dugaanku, pak nahkoda tak mampu mempertahankan harganya lagi, dengan senyum simpul dan dia bilang sebagai penutup hari perjalanan beliau hari ini kami sepakat.

*MIRIS*

Entah apa kami sangat menikmati cuaca mendung saat itu sekaligus ketakutan yang kami rasakan ketika menaiki perahu yang untuk ber 5 sangatlah… pas. Kami bertanya berkali kali mencari pembenaran bahwa perahu ini akan baik baik saja dan berulang kali Pak nahkoda meyakinkan kami bahwa ini A-M-A-N.

Sibuk dengan foto-foto aku pun mengamati keadaan sekitar. Karena sudah jadi kebiasaan dalam benakku ketika berjalan pasti memperahatikan sisi lain dari sebuah perjalanan dari pada hanya sekedar mengambil foto.

Aku melihat kapal-kapal besar bersandar dengan rapih. Ada beberapa orang yang sedang membersihkan kapal kapal mereka secara bersamaan. Kulihat air yang hitam pekat dan beberapa sudut penuh sampah, entah dari mana datangnya membuatku membayangkan bila kita tercebur. Bukan karena tidak bisa berenang melainkan entah seperti apa rasanya berenang di air yang seperti itu. Tak lama setelah aku berpikir, ternyata ada segerombolan anak remaja yang lompat dan nyebur di air tersebut. Melakukan hal tersebut berulang ulang. Sungguh di air kotor seperti ini saja masih ada orang yang berbahagia karenanya. Walaupun berpikir seperti itu aku tetap tidak mau bila suruh berenang disana. tak lama kemudia mereka berbegas pulang dengan pemandangan jalan yang sangat menarik. Seperti ini gambarnya.

Ada bangunan mewah, namun tak pelak bahwa bangunan seadanya masih bertebaran. Masyarakat kelas atas yang tinggal ditempat yang nyaman mandi dengan air bersih kolam renang mewah dengan mereka yang berenang dengan kolam renang alam yang luar biasa. Apakah kebahagiaannya akan sama ? sungguh saya tidak tahu, hanya setiap dari mereka yang mampu menjabarkannya.

Extra Time

“Pak nahkoda balik pak, gelombang laut udah gak nyantai”. Seru kami ditengah ombang ambing perahu ketika melewati batas yang diberikan untuk perahu kecil berlayar. Hanya sampai mercusuar merah hijau.

“bentar lagi pak, tanggung noh ampe sono”. Sambil pak nahkoda terkekeh melihat wajah kami yang panik.

“kaga pak ! udah gila kali lu ya, tinggi begini gelombang” seruku dari dalam kapal. Bukan hanya takut tercebur, tapi karena kami tidak memakai pelampung dan… barang barang berharga seperti kamera dan handphone yang kami bawa *dasar manusia* *belum punya uang kalo harus ganti*.

Dengan tawa yang mengintimidasi pak nahkoda menang telak kali ini karena dialah orang yang tahu keadaan. Akhirnya kami berputar balik dan kembali ke pelabuhan dengan selamat dan aman. Setelah kami membayar kami ucapakan terima kasih karena telah memastikan kami selamat sampai daratan.

Ternyata ketika melihat jam pukul setengah 6. Kami berbegas untuk nyari foto di darat dekat dengan perahu perahu besar yang bersandar dan jejeran kotak pengangkut barang. Namun setelah kami ingin masuk kami mendapat penolakan dari bapak penjaga gerbang dia bilang sudah terlalu sore untuk masuk foto foto dan dikhawatirkan ada begal karena barang barang yang kami bawa.

Akhirnya kami meminta tambahan waktu 15 menit untuk sekedar ambil beberapa foto disana. dan beliau meng-iya-kan negosiasi kami. All hail bapak penjaga.

Kami menpati janji kami hanya memakan 15 menit untuk berburu foto. Dengan cuaca yang tidak begitu mendukung dan waktu yang semakin gelap kami kurang puas. Ditambah lagi ada museum bahari yang belum kami kunjungi karena waktu yang sudah kelewat sore. Perjalanan dadakan selalu punya cerita sendiri memang. Akhirnya kami berterima kasih dan memutuskan untuk pulang. Tapi sebelum itu kami akan berjalan sebentar menghabiskan malam di kota tua karena letak lokasi yang tidak begitu jauh dan juga untuk menyantap makan malam di daerah taman menteng.

Selama 22 tahun menjadi warga jakarta baru kali ini saya mengunjungi Pelabuhan Sunda Kelapa. Sungguh hal yang sangat memalukan bila ternyata masih ada tempat seru di Jakarta ini. saya selalu bingung ketika teman-teman saya bertanya. “Tempat menarik dijakarta dimana ya ?”. entah saya yang memang malas untuk mengeksplorasi Jakarta atau memang karena tempat tempat tersebut tidak terekspose dengan baik. Tapi apapun itu, sejauh mata memandang, Jakarta terlalu penuh dengan pusat perbelanjaan dan gedung perkantoran sehingga menurut saya tempat wisata dijakarta tidak menjadi primadona di kota sendiri. Ini berdasarkan asumsi saya saja.

Saya mendambakan museum yang cukup banyak dijakarta ini bisa menjadi tujuan yang menarik bagi para pelancong baik dalam maupun luar negeri dan tidak akan berpikir bahwa jakarta itu tidak memiliki potensi pariwisata.

Mendambakan museum – museum di Jakarta akan menjadi seperti Museum Lovre di Perancis, atau seperti British Museum di Inggris, Rijksmuseum di Amsterdam ataupun Egyptian Museum di Mesir. Entah kapan akan terwujud tapi ketika itu bisa terwujud museum tersebut bukan hanya modern tapi juga memiliki ciri khas Indonesia yang mendunia.

 

 

Cheers !

Rifqi Mochtar Latif

One thought on “Berlabuh di Pelabuhan Sunda Kelapa”

  1. Aku baca tulisan dari awal sampe akhir, tidak ada yg aku skip atau berhenti membacanya karena suka dengan tulisannya .. beralur, terasa jujur apa adanya. Ditunggu tulisan selanjutnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *