“Buku ini misalnya, yang kini tengah kau pegang dengan kedua tanganmu, Big Magic, jelas-jelas merupakan panduan untuk menolong sendiri, kan? Tapi, tanpa bermaksud menyinggung, aku tidak menulis buku ini untukmu; aku menulisnya untuk-ku. Aku menulis buku ini demi kesenanganku, karena aku sangat menikmati saat-saat berpikir tentang tema kreativitas. Ini menyenangkan dan berguna bagiku untuk mendalami topik ini. Apabila apa yang kutuliskan disini akhirnya bisa menolongmu, itu bagus, dan aku akan senang sekali. Itu adalah efek samping yang menyenangkan. Tapi, sebenarnya aku hanya melakukan apa yang ku sukai.”

Ungkapan diatas merupakan salah satu ungkapan dari salah seorang penulis ternama yang baru-baru ini menjadi salah satu penulis favorit saya. (padahal baru baca satu karyanya). Yaps. Elizabeth Gilbert dengan buku Big Magic: creative living beyond fear – nya baru aja nampar nampar saya yang selalu banyak alasan untuk berkarya dan terlalu banyak mikir mau kaya gimana.

Oke flashback dikit. Ini merupakan buku pertama yang saya baca di 2018. “cieeee resolusi ye?”. Engga sama sekali. Haha. Saya dapet rekomendasi buku ini karena abis liat review-nya mba alodita tentang buku ini. Terus penasaran aja dan ternyata udah ada terjemahan Bahasa indonesianya. Ya jadi gak terlalu mikir keras buat mengartikan. Hehehe.

Buku ini cukup nabok-nabok saya beserta kehidupan saya. Walaupun sama sekali di dalam ungkapannya Elizabeth Gilbert membuat buku ini karena memang pada dasarnya dia suka untuk memikirkannya dan membuatnya. Dan saya rasa seperti itulah kreatifitas seharusnya. Tidak diperlukan untuk menolong banyak orang atau bahkan dunia. Tapi hanya karena berdasarkan kesukaan dan untuk menolong diri sendiri. dan ya mungkin itu juga menjadi salah satu jalan untuk menolong orang lain adalah dengan cara menolong diri sendiri.

“Kehidupan kreatif” disini adalah menjalani kehidupan dengan lebih mengandalkan keingintahuan daripada rasa takut”

Buku ini berhasil ngerubah sudut pandang saya terhadap proses kreatif untuk menciptakan sesuatu. Semua yang dikatakan di buku ini bisa dibilang related sama kehidupan saya pribadi. Terutama atas ketakutan ketakutan yang nge-drive kehidupan kita. Apalagi terkait dengan “karya”. Elizabeth Gilbert berhasil menohok semua ketakutan dan pertanyaan saya yang memang sering terpikirkan dalam kepala dan karena hal tersebut pula saya tak jarang mengurungkan niat untuk membuat sesuatu.

“kau ingin menulis buku? Menciptakan lagu? Membuat film? Melukis guci? Belajar menari? Mengunjungi tempat-tempat baru? Kau ingin menggambari dinding? Lakukan saja. Siapa yang peduli? Itu hakmu sejak dilahirkan sebagai manusia, maka lakukanlah dengan hati gembira. (maksudku, lakukandengan serius – tapi jangan terlalu memusingkannya.)

Banyak banget yang saya ingin kerjakan. Melihat realitas dunia yang semakin hari semakin cepat dan banyak hal hal baru yang menggugah rasa penasaran saya. Saya ingin loh mencoba menjadi penulis, content creator, youtuber, traveller. Tapi terkadang ada saja alasan untuk selalu menunda untuk memulainya. Tak jarang juga overestimate dan underestimate menghampiri diri sendiri. padahal siapa yang peduli dengan karya kita ? dan memang untuk melakukan semua kegiatan yang kita inginkan itu sudah menjadi hak kita sejak dilahirkan. Disini penulis memberikan sedikit tips bahwa lakukan saja hal hal yang ingin kamu lakukan tapi jangan terlalu memusingkan hasilnya. Karena semua hasil adalah bonus dari proses yang kita kerjakan.

“kau bisa mengukur harga dirimu berdasarkan dedikasimu terhadap pekerjaan bukan berdasarkan keberhasilan atau kegagalan. Kau bisa mengatasi ketakutanmu (melalui terapi, pemulihan, doa, atau perbuatan baik), alih-alih menolak karuniamu – sebagaian dengan menyadari bahwa ketakutanmu bukanlah yang harus menjalankan pekerjaanmu.”

Yes gak jarang saya ngukur sebuah keberhasilan dan kegagalan tapi seringkali minim apresiasi terhadap prosesnya. Ini juga menjadi catatan baru bagi saya bahwa dedikasi dan kecintaan melakukan sesuatu terutama untuk proses kreatif adalah dengan mengukur prosesnya dan tak usah terlalu pusing dengan hasilnya. Sehingga kita bisa lepas dan bebas ketika berkreasi.

“dan kepada banyak pencipta lain, yang terkenal dan tidak terkenal, yang penah bersembunyi di balik banyang-bayang kenyataan mereka sendiri atau reputasi khayalan mereka. Aku berharap, seorang mengatakan pada mereka untuk memenuhi berlembar-lembar kertas dengan bla-bla-bla dan menerbitkannya, hanya karena mereka senang menulis, dan mengabaikan apapun hasilnya.”

Hahahaha. Begitu baca ini langsung senyum tipis-tipis inget tingkah saya yang gak jarang memiliki khayalan atas kenyataan dan reputasi khayalan. Malah kaya jadi boomerang sih. Jadi berkaryanya engga, malah diketawain sama diri sendiri.

“aku memiliki suatu gagasan, tapi aku takut gagasan itu sudah pernah diwujudkan”. Ya, mungkin memang sudah pernah ada yang mewujudkannya. Sebagian besar hal sudah pernah diwujudkan – tapi hal-hal tersebut belum pernah diwujudkan oleh-mu.

Yes sering kali merasa takut gagasan tersebut atau karya tersebut udah pernah dibikin sama orang lain. Atau merasa terlalu orisinil karena belum ada yang pernah membuat. Namun Mbak Elizabeth nabok saya lagi. Bukan berarti belum pernah saya temukan ya berarti memang gak ada. Terlalu rumit untuk mencari karya yang orisinil. Tapi beliau dengan bijaknya berpesan bahwa sebagian karya di dunia ini sudah pernah diwujudkan tapi karya tersebut belum pernah diwujudkan olehmu.

Sejujurnya, saya baru membaca buku ini satu kali dan mungkin ini menjadi salah satu buku yang saya rela meluangkan waktu untuk membaca lebih dari satu kali karena “isi” yang padat dan penuh pemikiran cemerlang. Membaca buku ini membuat saya memiliki sudut pandang baru dan gairah baru untuk menciptakan suatu karya apapun itu dan yang pasti buku ini menjadi sebuah trigger baru terhadap diri saya untuk berani bereksplorasi untuk menjalankan kehidupan kreatif dan membuat sesuatu.

Oh, iya. Ada hal unik dalam buku ini. Sebagai orang yang tinggal dan hidup di Indonesia saya merasa bangga ketika Elizabeth Gilbert menuliskan kisah terakhir mengenai “Keilaihan” yang berasal dari Bali. Dari budaya dengan kreativitas yang sangat berbeda dengan budaya Barat.

Sebenarnya banyak ungkapan dan pemikiran Elizabeth Gilbert yang menarik sekali untuk saya tuliskan. Tapi alih-alih menuliskan semuanya. Lebih baik kalian yang mungkin membaca tulisan ini. Untuk membaca bukunya. Karena banyak sekali ilmu yang bisa diambil dan siap memporak porandakan anggapan yang selama ini mungkin bertengger di kepala anda terhadap sebuah karya atau berkarya menciptakan sesuatu. Apapun itu.

Seperti ungkapan Elizabet Gilbert dalam bukunya.  Dia menulis buku ini demi kesenangannya bukan untuk menolong pembacanya. tapi efek yang diberikan secara tidak langsung adalah buku ini membantu saya untuk menjawab pertanyaan pertanyaan di kepala saya terkait kehidupan kreatif itu seperti apa beserta ketakutannya sekaligus membuat saya ingin mewujudkan hal-hal yang baru dan membuat saya gak ragu untuk mulai berkarya apapun itu. sampai jumpa di tulisan tulisan saya lainnya dan di channel youtube saya. Hahaha

Akhir kata, silahkan dicari dan dibaca buku ini. Apa aku harus bikin review dan cerita di youtube ? buat kamu yang malas baca ? hahaha

 

Thankyou udah mampir !

 

Cheers,

Rifqi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *