“Seru kali ya kalo misalkan paper kita tembus ?” gue ngomong secara spontan waktu lagi ngendarain motor ke pacar gue. Gak lama dari situ, tiba-tiba handphone gue ada telepon masuk dari nomer yang gak gue kenal. Gue berhentiin motor dan langsung aja angkat tu telepon.

“halo dengan mas rifqi ?”

“iya saya sendiri, maaf dengan siapa ?”

“saya dari blalala…” jadi intinya dia dari panitia penyelenggara lomba karya tulis di salah satu universitas di malang (Universitas Brawijaya) mau ngasih kabar kalo paper yang gue kirim itu tembus untuk di presentasiin disana.

Malang ? tempat baru ? jalan jalan ? gratis ? angan gue melambung tinggi hehehe tapi tiba tiba disadarkan “woi kesana buat lomba, presentasiin gagasan, bangun relasi organisasi etc” tapi intinya tetep, Malang dan jalan jalan. buat hal ini gue ceritain di lain kesempatan.

Akhirnya gue berangkat ke Malang dengan peralatan tempur yang udah gue siapkan sebelumnya which is paper yang akan gue presentasiin disana. lombanya tentang apa sih ? terus lo bikin gagasan apa ? eits sabar dulu, sini gue jelasin. Jadi waktu kuliah gue lumayan aktif untuk terjun di ranah karya tulis ilmiah (KTI). Kemudian, ketika itu gue dapet informasi kalo UB ini akan ngadain lomba KTI dengan ngusung tema besarnya tentang “Blue Economy” gue langsung nemuin dosen buat ngobrol masalah ini. Setelah itu gue sepakat untuk mengangkat masalah community based tourism (CBT) di wilayah pesisir indonesia. Secara singkat gue kasih sedikit cerita soal paper gue lewat abstraksi yang gue buat.

Blue Economy merupakan sebuah paradigma baru yang berkembang pada pembangunan ekonomi yang diyakini menjadi model yang tepat untuk mencapai pertumbuhan ekonomi dari sektor kelautan dan perikanan, menciptakan lapangan kerja serta meningkatkan kesejahteraan publik, sekaligus mempertahankan pesisir dan dukungan terhadap lingkungan dan kualitas laut. Indonesia memiliki banyak obyek pariwisata yang potensial untuk mengembangkan kondisi sosial ekonomi masyarakat pesisir, namun yang menjadi masalah adalah ketika pemanfaatan potensi tersebut justru didominasi oleh pihak luar negeri sehingga masyarakat pesisir merasa terabaikan dan dirugikan.

Community-based tourism hadir  sebagai salah satu alternatif solusi untuk pengembangan pemberdayaan potensi pesisir dimana masyarakat pesisir menjadi aktor utama dalam pengembangan pariwisata yang akan mendorong perekonomian mereka dan membatasi campur tangan pihak luar negeri dalam menajemen pariwisata tersebut. Keberhasilan sejumlah negera dalam penerapan community-based tourism menjadi dasar untuk memajukan potensi pariwisata dengan mengembangkan potensi lokal yang ada.

Community-based tourism telah populer sebagai sarana pendukung konservasi keanekaragaman hayati khususnya di negara berkembang dan menghubungkan mata pencaharian dengan melestarikan keanekaragaman hayati sementara mengurangi kemiskinan pada masyarakat pedesaan.”

Walaupun masalah CBT ini bukan hal yang baru, tapi di Indonesia masih sangat jarang yang mengaplikasikan pola pengembangan pariwisata tersebut khususnya di daerah pesisir. Secara garis besar pariwisata berbasis masyarakat ini menekankan kepada pengembangan masyarakat sehingga masyarakat disekitar tempat wisata ini mampu untuk menyediakan, menjaga, dan mengembangkan apa yang dibutuhkan oleh wisata itu sendiri. Pariwisata yang berkelanjutan dan masyarakat yang mendiri adalah tujuan besar dari gagasan ini. Gue sangat salut melihat Wae Rebo, walaupun belum pernah kesana (semoga ada jalan buat kesana) mereka tetap menjaga kelestarian budaya dan alam dengan tetap mengembangkan sektor pariwisatanya, hal inilah yang menjadikan Wae Rebo selalu menjadi primadona sebagai salah satu tujuan wisata.

Setelah sampai di malang dengan perjalanan sekitar 9 jam karena gue berangkat dari Purwokerto, gue langsung istirahat karena malamnya ada technical meeting dan kenalan sama para peserta lomba yang lainnya. Keesokan harinya, tibalah saatnya untuk mempresentasikan gagasan yang gue bawa ke lomba ini, jujur ini kali pertama gue mempresentasikan karya gue di luar kampus, gue excited banget. Gagasan gue akan disandingkan dengan 10 gagasan lainnya dari Univ yang terpilih diseluruh Indonesia, ada dari Unnes, UB, Unpad, UI, dll.

Gue dapet nomor urut 9 untuk mempresentasikan gagasan gue, sejauh yang gue liat gagasan yang mereka buat sangat sangat menarik, ada yang fokus pada pengembangan pariwisata tersier dengan penggunaan kapal pesiar untuk keliling Indonesia. Kemudian ada yang fokus pada permalahan coral reefs, pengembangan petani garam, dan wisata budaya. Memang tidak semua tentang pariwisata intinya ada yang behubungan dengan blue economy. Tiba waktu gue untuk presentasi, nervous ? pasti, tapi gue mencoba untuk santai dan mengatur apa yang akan gue omongin nantinya. Selepas presentasi kita ada tanya jawab dengan juri, ada sekitar empat orang dan mereka ada yang bertanya mengenai implementasi gagasan lalu komentar dan masukan dari pihak juri sangat membantu gue untuk menyempurnakan gagasan yang gue ajukan. Selepas presentasi sekitar sore hari, gue dan teman-teman yang lain langsung balik ke penginapan karena malamnya langsung diadakan gala dinner sekaligus pengumuman pemenang.

Gala dinner dilaksanakan di salah satu gedung Univ. Brawijaya. Selepas makan malam bersama, tibalah saatnya pengumuman pemenang, dan…… eng ing eng, gue belum diberi kesempatan untuk menang hahaha. Juaranya dari tuan rumah ada 2 team dan 1 dari Unnes. Meski gak menang, gue tetep seneng banget karena karya gue bisa bersanding dengan karya-karya hebat lainnya dan seenggaknya gue udah memulai untuk memberikan sebuah kontribusi kecil bagi Negara ini lewat tulisan. Nah esok harinya ada waktu jalan jalan, tapi gue ceritain ditulisan yang lain yaaa.. hehe

Beberapa tahun belakangan ini sektor pariwisata Indonesia lagi bergairah banget, jujur gue seneng karena dengan adanya hal tersebut membuat Indonesia bisa lebih dikenal di dunia lewat “surga-surga”-nya sehingga dapat menimbulkan efek yang positif bagi kemajuan negara ini dari berbagai macam sisi. Tapi gue juga takut ketika kita sebagai wisatawan yang gak bisa menjaga alam dan kearifan budaya, seperti dua sisi mata uang memang, selalu ada efek positif dan negatif. Di akhir tulisan ini gue cuma mau mengingatkan untuk terus menjadi pejalan yang bertanggung jawab dan bukan hanya memikirkan diri sendiri ketika kita melakukan perjalanan, karena efek yang ditimbulkan akan sangat banyak. Mari kita sama sama melakukan hal hal yang positif selama perjalanan dengan kemampuan masing masing setidaknya kedatangan kita ke salah satu tempat wisata adalah bukan untuk merusaknya. Gue percaya, kita pasti bisa untuk terus menjaga kelestarian alam dan budaya yang memang dikaruniai Tuhan kepada Indonesia.

Thinktripper - Lifetime Journal (competition)
Asal dari mana ?
Thinktripper - Lifetime Journal (competition)
finalist dan dewan juri
Thinktripper - Lifetime Journal (competition)
finalist
Thinktripper - Lifetime Journal (competition)
uhuuk
Thinktripper - Lifetime Journal (competition)
nocaptionneeded

 

Salam Hangat

 

Rifqi Mochtar Latif

Di kolong langit Jakarta

ditulis 21 July 2016

dijalan 18-20 Semptember 2013

5 thoughts on “Community Based Tourism: Dariku Untuk Indonesia”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *