After the Sun goes by
After the Sun goes by

Aku setengah berlari mengejarmu, dengan napas yang tecekat aku bingung harus mencari kemana arah pergimu. aku berpegangan pada lututku sendiri seraya berpikir mencari jejak yang kau tinggalkan, kuputar kepalaku ke kanan dan kiri tidak ada kulihat bayangmu, melainkan hanya hamparan pasir kosong yang membentang, kulihat kebawah tak ada kau tinggalkan sedikit jejakmu di bumi. Dahiku terus meneteskan bulir air yang bersorak keluar dari pori pori. Kuseka berkali-kali tak ada habisnya. Aku mencoba untuk terus berlari, sampai pada titik dimana aku tersadar untuk mengadah meminta kepada Tuhan sedikit saja petunjuk yang akan menuntunku kepadamu.

“Itu dia ! berhasil !”. gumamku dalam hati ketika aku melihat seberkas sinar jingga menuntun ke arah kamu berlari. Kamu mengumpat dengan sangat bijaksana dibalik peraduan awan. Menghindarkah ?.

Akal sehatku mulai tidak sadar ketika kutarik sampan entah milik siapa dan aku terus mendayung ke arahmu. Kudayung dengan sekuat tenaga kearahmu. Beruntung samudera seolah mendukungku untuk mengejarmu. Sampai aku cukup jauh untuk menepi dan bayangmu perlahan menghilang. Aku tersadar bahwa sia sia aku mengejarmu ketika bumi ini berbentuk bundar dan tak berujung. Andai saja bumi ini berbentuk kotak. Kelak akan ku temukan tempatmu bersembunyi .

Ku kembali dengan sisa semangatku mendayung untuk mencapai tepi. Aku termenung menyaksikan senyum kemenanganmu lewat bantuan awan yang melindungimu. Aku duduk melihat sisa jejakmu yang membuat langit seperti tersayat menjadi jingga. Aku mulai mempercayai bahwa kamu adalah sesuatu yang tidak dapat ku kejar, tapi tingkahmu dapat memporak porandakan setiap harapan seseorang. Ketika aku melihat dua orang bergandengan tangan berjalan menikmati guratan indah yang kamu sisakan, sebelum kamu berjalan menjauh. Kupikir kamu akan meninggalkanku tetapi kau hadirkan sebuah keindahan yang engkau lukis melalui langit senja sebelum aku menghadapi dinginnya gelap malam. ku putuskan untuk menikmati hadiah yang kamu berikan ketika ombak menyambut gembira bahwa aku telah kembali pada akal sehatku.

“Esok kita bertemu lagi, kan?”

 

 

Salam Hangat,

Rifqi Mochtar Latif

Pict taken: Pantai Senggigi, Lombok

ditulis: Jakarta, 11 Februari 2016

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *