Membuka kembali beberapa foto di laptop membuatku seakan terbawa kembali ke perjalanan untuk melakukan pendakian gunung pertama di sepanjang hidup. Gunung Prau namanya, memiliki tinggi sekitar 2565 mdpl yang menyuguhkan pemandangan menabjukan dan dari atas puncak dihadirkannya beberapa gunung yang berjejer beriringan, kokoh menopang langit.

Tahun 2014 lalu, tepatnya sekitar bulan april, aku bersama beberapa teman meng-iya-kan untuk megisi waktu luang yang diberikan kalender perkuliahan. Perjalanan kami menggunakan sepeda motor dari Purwokerto sampai ke dataran tinggi Dieng, Banjarnegara. Kebetulan kami memang berdomisili di daerah Purwokerto.

Semula, perjalanan akan dilakukan pukul setengah 4 dengan mengestimasikan perjalanan sekitar 3 jam sampai di dataran tinggi dieng. Namun, apa boleh buat sebagian teman masih terjebak di ruang kelas sehingga mengulur waktu sampai pukul 5 sore baru aku memulai perjalanan. Tepat pukul 06.30 kami tiba di Banjarnegara istirahat sebentar sambil solat magrib dan mengisi perut. Kami melanjutkan perjalanan Banjarnegara-Dieng dengan waktu tempuh sekitar 2 jam karena kami berjalan dengan santai. Kami tiba di basecamp pendakian kira-kira pukul setengah 10 malam karena kami kebetulan akan melakukan pendakian pada malam hari. Sekedar informasi, dari yang aku ketahui bahwa pendakian dapat dilakukan melalui jalur pendakian Patak Banteng atau dataran tinggi Dieng. Jelas ada beberapa perbedaan ketika melalui kedua jalur ini. berdasarkan informasi yang aku dapat jika kita melakukan pendakian via Patak Banteng, jalur yang akan kita lewati cukup terjal tapi waktu tempuh untuk pendaki pemula sekitar 3-4 jam mungkin bagi kalian yang sering mendaki gunung akan lebih cepat. Kemudian pendakian via jalur dataran tinggi dieng, jalur pendakian memang lebih landai dan aman tapi pendakian bisa memakan waktu 4-5 jam untuk pemula. Karena kami tidak mau membuang waktu dan memang sensasi naik gunung lebih terasa apabila melewati jalur pendakian Patak Banteng, akhirnya kami memutuskan untuk melakukan pendakian yang dimulai pukul setengah 11 malam via jalur Patak Banteng.

Pendakian melalui jalur Patak Banteng ini akan melewati 3 pos sebelum sampai ke puncak. Tapi tidak perlu takut bagi kalian yang ingin mendaki gunung, karena jalur pendakian ini cukup ramai sehingga tidak perlu takut akan tersesat karena para pemuncak ini seperti semut yang berjalan menuju sebuah tetesan madu. Jalur paling sulit yang kami lewati setelah pos 3 menuju camp area karena disana kita dituntun dengan tali pembatas disetiap pinggiran gunung serta medan yang cukup terjal. Aku sempat berdiam diri setelah melewati pos 3 sambil menunggu serta membantu teman yang ada dibelakang. Tapi jangan khawatir karena indera pendengaran kalian akan di manjakan dengan suara angina semilir yang menggoyangkan pohon membentuk alunan nada tersendiri. Indah.

Kami sampai camp area pukul 03.00 dini hari, udara cukup menusuk sekitar 8 derajat celcius. Kami langsung mencari tempat untuk membangun tenda dan mengganti baju kami yang basah karena pendakian serta menghangatkan diri sejenak sebelum menyambut mentari pagi di gunung Prau.

Pagi itu ada sekitar 750an orang yang berada di camp area gunung Prau. Cukup banyak ?. itu belum seberapa, ketika aku bertanya sama bapak penjaga basecamp, para pendaki bisa sampai lebih dari 1500an orang ketika sedang ramai. Cukup fantastis jumlah orang yang lalu lalang setiap hari menikmati alam ini. melihat sang surya berjalan menuju singgasananya tumbuhan menyambut dengan suka cita, awan berjejer seperti membentuk permadani, gunung-gunung yang berdiri kokoh seakan siap menopang kehadirannya diatas salah satu sudut langit dunia.

Permadani awan menyambut sang mentari
Permadani awan menyambut sang mentari
Gundukan Bukit
Gundukan Bukit
wefie on camp area
wefie on camp area
Camp area
Camp area

Setelah menikmati pemandangan tersebut kami menyantap perbekalan yang kami bawa sebelumnya sambil istirahat karena sebagian kami hanya baru tidur sedikit sekali mungkin hanya sekitar 1 atau 2 jam saja (sungguh tidak baik). Selesai menikmati apa yang disuguhkan oleh alam dan perbekalan. Kami memutuskan untuk merapihkan kembali bawaan kami dan bersiap untuk turun kembali. Namun aku masih merasa sedikit rishi dengan sampah yang dihasilkan para pendaki, jujur saja itu membuat camp area terlihat tidak indah. Mungkin sebagian dari kita berpikir bahwa kita sudah melakukan pembayaran di base camp sebagai uang kebersihan, tapi yang perlu kita sadari adalah bahwa tidak mungkin cukup bagi mereka yang berjuang membersihkan alam Prau. Kita menikmati keindahan, berbagilah dengan orang yang belum menikmati indahnya alam Prau dengan terus menjaganya agar tetap menjadi indah. Kalian tidak dikenakan biaya yang besar untuk menikmati udara dan pemandangan serta kebahagian yang kalian dapatkan, cukup menjaganya tetap indah saja itu cukup.

Penopang langit
Penopang langit
IMG_4594
Alam Prau luar biasaaaaaaa!!!
IMG_4696
Merapihkan tenda dan membawa turun sampah kami
Bergegas turun
Bergegas turun

Dalam perjalanan turun, saya sempat beristirahat di setiap pos dan menikmati keindahan yang diberikan alam Prau ini. sungguh tidak menyangka bahwa medan yang saya lalui malam hari cukup berbahaya ketika saya berjalan turun. selain itu pemandangan desa tertinggi dipulau jawa pun dapat kami nikmati dengan saksama disetiap sudutnya menimbulkan decak kagum yang luar biasa. Perjalanan turun tidak begitu makan waktu yang cukup lama hanya sekitar 2 jam kami untuk sampai di base camp.

Our team
Our team
our track
our track
our track
our track
View from the top
View from the top

Terima kasih alam Prau untuk suguhan keindahannya, apabila kita berjumpa lain waktu, semoga engkau tidak berubah terlalu banyak dan tetap menjadi indah serta topanglah sang surya dengan riang.

Salam Hangat,

 

 

Rifqi Mochtar Latif

Visit Mt. Prau: 9-10 April 2014

Ditulis: Jakarta 11 Februari 2016

5 thoughts on “Gunung Prau – Saksi Pendakian Pertama”

  1. Wah 750 orang waktu itu di base camp nya? Rame banget.
    Kebetulan saya tahun lalu naik ke Prau juga, cuma gak ngecamp baik sebentar ataupun lama. Jadi naik ke atas selepas sahur, subuhan di puncaknya, lihat sunrise lalu turun lagi. Enak sih, gak terlalu jauh dan lama waktu tempuhnya. Tapi memang Prau cukup ramai pengunjung juga waktu itu, mungkin karena tergolong mudah jalur pendakiannya. Tapi tetap gak bisa bayangin juga kalau di area sesempit itu bisa menampung 1500 pendaki ketika musim ramai. Pasti crowded banget yaaa 🙂

    1. kira kira seperti itulah mas yang ada dilapangan saya juga bingung hahaha… iya buat pemula yang emang mau belajar ngedaki saya rasa cukup dengan medan seperti itu… makasih sudah mampir mas 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *