Thinktripper - Career Talks

Selepas lulus kuliah salah satu hal yang pasti di idam idamkan oleh para freshgraduate kebanyakan termasuk saya adalah mendapat pekerjaan bagus. Loh kok bagusnya di coret ? karena pada kenyatannya hal tersebut tidak semudah yang dibayangkan setidaknya bagi diri saya pribadi. Kadang tak jarang ekspektasi dari pekerjaan yang bagus lambat laun bergeser sampai pada titik paling tidak kerja aja dulu apapun itu. Sampai akhirnya saya yang cukup idealis untuk tetap mempertahankan dan mengejar yang saya inginkan dan itu… “takes me over a year being unemployment, rejected, afraid, and lost confidence”.

Semuanya bermula ketika…

Tahun 2015 saya lulus kuliah dengan IPK yang bisa dibilang lumayan. Tidak jelek namun masih ada yang lebih tinggi dari saya *banyak malah* hehe. Dengan segudang pencapaian dan pengalaman yang bagi diri saya sendiri cukup baik. Selain kuliah, saya aktif juga di organisasi dan kepanitian, selain itu saya juga sempat beberapakali mengikuti lomba lomba baik itu di tingkat Universitas, regional maupun nasional, tinggal Internasional aja yang belum kesampaian (biar go internasional kaya mba agnezmo).

Dengan berbagai bekal tersebut bisa dibilang saya cukup percaya diri untuk seperti kebanyakan freshgraduate mendapatkan pekerjaan dengan mudah dan bagus, gaji tinggi, dan yang paling penting TIDAK MENGANGGUR agar kalo ditanya sama temen lebih pede aja gitu hehehe. (riya yang sederhana). Bercanda ya… Oke serius serius.

Namun, kenyataan memang tidak semudah daun yang jatuh tak pernah membenci angin. Saya malah jadi pengangguran selama lebih dari satu tahun. Berbagai email tanpa jawaban dan penolakan sudah menjadi makanan sehari-hari. Sampai kenyang.

Saya terus mencoba untuk mengirimkan email lamaran pekerjaan, dari yang multinasional sampai nasional. Dari yang bagus sampai yang biasa. Dari yang gaji tinggi sampai gaji yang paling tidak bisa menutupi biaya bulanan. Dari yang selektif sampai yang penting keterima. Lebih dari ratusan perusahaan, puluhan interview dan beberapa medical check up ataupun tahap akhir penantian menjadi seorang pekerja. Semuanya gagal dan itu membuat saya frustasi.

Sampai pada titik itu. Saya mulai merasa picik sebagai manusia. Merasa dunia tidak adil, kepercayaan diri porak pranda, takut untuk bersaing, malu dan yang paling parah merasa gagal sebagai seorang “orang”. tapi setelah proses panjangnya, di pikir pikir pengalaman tersebut juga membentuk saya secara tidak langsung. Tapi bila ada kesempatan untuk saya memberikan catatan pada diri saya ketika menjadi pengangguran mungkin saya akan mengingatkan seperti ini…

Jangan terbebani dengan pikiran sendiri

Kadang sebagai manusia, saya terlalu memikirkan pandangan orang lain mengenai saya. Padahal setelah saya pikir pikir. orang lain akan fokus pada hidup yang sedang mereka jalani, paling cerita tentang saya hanya terlintas sekali, dua kali atau bahkan tidak sama sekali. Jadi itu merupakan tamparan keras bagi saya untuk fokus pada diri saya sendiri dan sebenernya musuh utama saya adalah ya pikiran saya sendiri. Bertarung dengan pikiran negatif memang bukan perkara mudah, namun bila tidak bisa melawan setidaknya cobalah untuk merasa tidak peduli atau bodo amat terhadap pikiran pikiran negatif tersebut.

Berhenti untuk membandingkan diri sendiri dengan orang lain

Kalo ada yang bilang “rezeki itu udah masing-masing” ini benar adanya loh. Ketika dulu masih mencari kerja saya orang yang bisa dibilang lumayan sering untuk membandingkan diri saya dengan orang lain. Baik itu membandingkan untuk melebihkan diri atau mengurangi diri, tapi ujungnya tetap sama, selalu menimbulkan ketidakpercayaan pada diri. Sebagai contoh, banyak teman saya yang memiliki IPK lebih rendah sedikit dibawah saya, kurang aktif berorganisasi, dan belum tentu memiliki prestasi non akademik mendapatkan pekerjaan lebih dulu dari pada saya. Hal tersebut tentu pernah membuat mental saya jatuh. Atau contoh lainnya ketika melihat teman yang memiliki IPK lebih tinggi dari saya, aktif berorganisasi, dan memiliki segudang prestasi, mereka mendapatkan pekerjaan dengan mudah. Lagi lagi saya merasa minder dan takut untuk bersaing. Ini dilema.

Saya banyak introspeksi diri dan mencoba untuk berhenti membandingkan diri saya dengan orang lain apapun kondisinya, mau saya lebih atau kurang saat itu pula saya berhenti untuk membandingkan. Satu yang patut untuk dibandingkan menurut saya adalah ya, saya dengan saya. Itu saja sudah cukup merepotkan, ditengah kondisi diri yang memang tidak stabil. Jadi berhentilah dan bijaksananlah demi ke-stabilan hidup.

Lepaskan rasa bangga atas pencapaian diri

Sebagian pencapaian memang layak untuk di apresiasi namun bukan berarti harus dijadikan tolak ukur untuk tahap selanjutnya. Bila perasaan itu masih ada, itu hanya akan membebankan, membuat saya selalu membandingkan dengan orang lain padahal kita tak selamanya bisa menggunakan senjata yang sama untuk medan yang berbeda, maka upgrade senjatamu. Ibarat sebuah perlombaan lari, mungkin di lomba kali ini kamu mendulang mendali emas. Tapi, ingat masih ada lomba lainnya yang masih sama dimulai dari titik “start” yang berarti semua penghargaan tetap nol selama pertandingan belum mencapai garis finish.

Teruntuk “naysayer”

Ada saja celotehan seperti, “udah lulus kuliah bukannya kerja, malah nyantai aja”, atau “udah kerja apa saja dulu jangan terlalu banyak milih, nanti kalo kelamaan nganggur makin susah dapat kerja”, atau ada lagi “si rifqi gak kreatif nih dalam nyari kerja, makannya susah dapet”, dan lain lain dan lain lain.

Terima kasih untuk selalu ada, dan menjadi bagian dari penikmat pertunjukan saya. Hehe… memang tidak dimana-mana “naysayer” ini selalu ada, bahkan tidak jarang orang lain terlalu mengkritik hidup yang saya jalani. Disangka saya tidak berusaha memperjuangkan hidup saya. Jangan terlalu perdulikan omongan seperti itu, selagi orang tua mu pun tidak pernah protes. Bahkan kadang orang tua saya bilang seraya menyemangati “sudah jangan diambil hati, selagi kamu ngga minta makan sama mereka gak usah di dengerin”.

Semenjak jadi pengangguran saya merasa seakan saya menjadi pusat perhatian untuk para “naysayer” ini. Jadi selama itu pula saya belajar untuk memiliki kuping yang tidak harus selalu mendengar perkataan negatif orang lain.

Walaupun kamu menganggur, lakukan lah sesuatu

Satu hal yang saya agak sayangkan ketika mengaggur adalah saya hanya fokus mencari kerja, mungkin hanya sekali diselingi untuk mengikuti kegiatan volunteer. Padahal waktu lebih dari 1 tahun itu cukup lama jadi akan lebih baik bila saya mencoba melakukan sesuatu apapun itu yang penting dapat menambah skill dan pengetahun saya. Bila dibenturkan dengan keadaan saat ini mungkin ketika menganggur dulu saya harusnya lebih rajin menulis blog, bikin konten youtube, berdagang atau melakukan kegiatan kegiatan yang dapat diceritakan guna saya mengisi waktu saat menjadi pengangguran dan ketika saya memutuskan menjadi pegawai mungkin hal tersebut dapat diceritakan kepada bagian recruiter hehehe…

Pahami dengan jujur mengenai kekurangan dan kelebihan diri sendiri

Nah hal ini yang saya luput, malah setelah bekerjalah saya baru bisa menemukan kekurangan dan kelebihan dari diri saya. Namun ini akan lebih baik ketika selepas kuliah saya langsung mengevaluasi apa kekurangan dan kelebihan diri. Berusahalah untuk menerima kekurangan dari diri sendiri karena itu pula yang menandakan bahwa kita hanyalah manusia biasa. Memang tidak mudah tapi sekali kamu sudah memahami diri, maka kamu akan lebih percaya sama dirimu untuk setiap keputusan yang kamu ambil untuk hidupmu. Apapun itu.

You are young and free, take risk!

Seperti ungkapan klasik, tapi benar adanya. Harusnya saya bisa mengambil kesempatan ketika menjadi pengangguran untuk mencoba hal hal baru dan tak perlu terlalu takut untuk mengambil keputusan dalam hidup selama benefit dan kerugiannya hanya berdampak pada diri sendiri. kamu adalah tuan atas hidupmu… selagi tidak merugikan orang lain ya sikat aja peluangnya…

****

Mungkin kira kira seperti itu ketika saya dapat memutar waktu untuk memberi catatan pada hidup saya yang terombang ambing ketika menjadi pengangguran. Memang tidak mudah berada disalah satu masa peralihan menjadi orang dewasa, seperti bekerja. Namun, pasti selalu ada yang lebih baik kondisinya dan lebih buruk kondisinya. Jadi mungkin stop making an excuse and start to enjoy and rock your life.

3 thoughts on “Jobless Over a Year and Note to Myself”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *