Tahun 2015 adalah tahun dimana sangat sedekit pelesiran untuk mendapatkan pengalaman baru. Mungkin hanya lebih banyak menghabiskan waktu di purwokerto karena menyelesaikan tugas negara (skripsian) sampe akhirnya selesai dibulan Juni. Lalu kembali ke Ibu kota, yap Jakarta. Sempat sih di bulan Agustus pelesiran ke Yogyakarta, kebetulan memang kota itu penuh kejutan dan selalu ada hal yang terlewatkan ketika berkunjung kesana. Akhirnya ? selalu ada alasan untuk kembali ke Yogyakarta. Singkat cerita, kembali lagi ke ibukota, bertarung dikehidupan sesungguhnya. Suntuk, pasti. Tekanan, banyak. Jalan-jalan? Engga – pernah. Karena jadi job seeker menguras tenaga juga dan kebanyakan di php-in. akhirnya memutuskan untuk ke Kediri, kampung inggris, menepi sebulan dan sangat happy dengan lingkungan yang memang benar benar nyaman seperti di purwokerto. selepas dari sana ? kembali lagi di ibu kota.

Begini kira kira pamfletnya
Begini kira kira pamfletnya
I'm part of 1/30 volunteer in a voluntrip
I’m part of 1/30 volunteer in a voluntrip

Ketika lagi merenung ada pesan masuk di group line, “you’ve a new massage”. Aku buka, ternyata ada yang ngeshare foto pamphlet kegiatan voluntrip kolaborasi sama dompet duafa, awalnya gak begitu tertarik sampai pada akhirnya temanku di Kediri ngajakin buat ikutan, akhirnya aku coba untuk mengapply kegiatan ini (ada seleksi dulu sebelum ikutan kegiatan). Setelah beberapa hari akhirnya muncul pengumuman di instagram dan whatsapp bahwa namaku ada disalah satu list pengajar voluntrip dompet duafa, di Ciherang, Kabupaten Banten.

“Alhamdulillah, ada kegiatan dan bisa nambah pengalaman (jalan-jalan)”, celetuk dalam hati.

Hari yang ditunggu tiba juga, setelah persiapan ini itu, aku memulai menuju basecamp dompet duafa di Ciputat karena kita akan berangkat dari sana. Sesuai jadwal kami akan pergi selama 3 hari 2 malam, dari hari jum’at 30 Oktober dan pulang hari minggu 1 November 2015. Oh iya, buat yang belum tahu mengenai kegiatan Voluntrip itu apa, jadi kegiatan ini juga bisa dibilang mengajar sekalian jalan – jalan. Mengajarnya dimana ? yap mengajar di daerah yang memang agak pedalaman, akses jalan sulit dan jauh dari pusat kota. Nah untuk cerita lengkapnya ikutin aja tulisan ini ya. Sesampainya di basecamp ciputat, aku tidak mengenal siapa-siapa karena memang kebanyakan dari kami belum saling kenal, tapi tidak perlu menunggu lama untuk kenal dengan panitia dan beberapa peserta voluntrip karena  mereka sangat baik dan keren sekali. Hehehe.

Tepat pukul 9 malam selepas mengisi perut, kami berangkat meninggalkan Ibu Kota, walaupun jarak yang ditempuh tidak begitu jauh hanya ke banten tapi lumayan memakan waktu cukup lama, memakan waktu sekitar 7-8 jam perjalanan dengan menggunakan Bus tronton TNI hahaha. Dua tronton melaju meninggalkan ibu kota, melewati jalan panjang yang mulus dan lurus. Lampu jalanan terus menyoraki dengan sorotan tajamnya. Memasuki daerah Merak, kami disambut dengan jalanan yang sesekali cukup mengelus dada tapi masih tetap oke. Di sepanjang jalan terpapar pusat-pusat industri besi maupun baja berdiri megah, kokoh. Memang daerah Merak, Banten ini terkenal dengan pusat industri bajanya, salah satu yang terbesar di Indonesia. Lampu-lampu tembak proyek seakan tak pernah berhenti menyinari, pusat industri ini juga tidak pernah tidur tampaknya. Tapi bayangan mirisnya adalah udara disana sangat panas dan asap polusi yang dikeluarkan cukup membuat sesak, aku tidak habis pikir warga yang tinggal disekitar lingkungan industri tersebut. Kalo kalian pernah melihat film “Lord of The Rings” dibagian penyihir putih menghancurkan hutan untuk membuat para “Orc” aku pikir itu persis seperti itu. pemandangan lampu sorot oranye pun persis seperti api yang tak pernah padam.

Sudah lima setengah jam perjalanan. Akhirnya kita sampai ? tidak. Akhirnya kita meninggalkan jalanan beraspal maupun jalanan semen digantikan dengan tanah merah dan batu batu kali yang dipecah untuk mempermudah agar kendaraan dapat masuk ke dalam Ciherang. Waktu tempuh dijalan tersebut kurang lebih 1,5 jam. Terlempar beberapa kali di  dalam tronton sudah sampai tahap pemakluman. Aku pernah beberapa kali mengadakan bakti sosial ataupun menjadi pengajar di purwokerto tapi tetap belum pernah bertemu yang separah ini. bila hujan tiba, dipastikan tidak ada yang mau untuk pergi keluar rumah karena jalanan utama yang menghubungkan desa dengan jalur utama yang bagus itu sudah tertutup tanah merah yang lengket. Pernah salah seorang guru yang mengajar di pedalam ini ada pertemuan di pusat kota, karena waktu itu hujan dan tidak ada ada kendaraan yang bisa menembus jalan yang tertutup tanah merah jadi beliau jalan kaki dari jam 7 pagi baru sampai sekitar pukul 2 siang di pusat kota. Mengharukan.

Tepat pukul 4 pagi kami sampai di Ciherang, banten, merebah badan sejenak dan mata ini baru saja menutup mata sekitar 1 jam kami sudah dibangunkan untuk melaksanakan ibadah, dan persiapakan karena ada acara pembukaan yang akan dilaksanakan pada jam 8 pagi hari dan dilanjutkan dengan kegiatan yang sudah disusun sedemikian rupa oleh panitia penyelenggara.

Selepas beribadah aku tidak melanjutkan tidur karena memang waktu persiapan yang cukup mepet, akhirnya aku putuskan untuk melihat lihat kondisi sekitar dan bercengkrama dengan warga sekitar. Ada hal yang cukup membuat aku miris ketika melihat kondisi lingkungan di Ciherang ini, aku beberapa kali membaca travel blog yang pergi ke daerah timur Indonesia, yang memang mengulas mengenai kehidupan masyarakatnya. Memang ada pembangunan yang cukup timpang antara pulau jawa dan Pulau-pulau lainnya. Tapi kali ini membuat aku cukup heran.

IMG-20151103-WA0014
Pagi Hari di Ciherang
IMG-20151103-WA0017
Salah satu rumah penduduk

Pertama, Ciherang ini masih di daerah banten tidak terlalu jauh dari Jakarta, tapi kondisinya cukup membuat mengelus dada. Kedua, Ciherang ini juga tidak terlalu jauh dari salah satu pusat industri Baja tersohor seantero negeri, tapi kondisi masyarakat tidak seperti yang bayangkan. Ketiga, perkampungan ini dikelilingi oleh tanaman kelapa sawit, tapi tanaman tersebut bukan milik warga melainkan milik korporasi. Tau apa yang terjadi ? aku hendak mengambil air untuk mencuci muka pada pagi hari, kami harus menimba terlebih dahulu. Bukan menimba yang menjadi masalah, tapi air yang dihasilkan sudah tidak begitu jernih dan beberapa sumur sudah mengalami kekeringan, air bersih pun sulit. itu baru cuci muka, ketika hendak mandi, kami memasuki segi empat bambu dengan tinggi sekitar 120cm hehehe jadi kalo mandi kepalanya keliatan, aku mengurungkan niat untuk mandi jadinya. Hahaha dan memutuskan untuk mandi ketika malam hari saja karena lebih aman paling yang ngeliat ya makhluk yang tak kasat mata HAHA… gimana sanitasinya ? huehehe jangan tanya, membuangnya harus kerumah warga yang memiliki saluran sanitasi tentunya. Setelah puas melihat kami briefing dan bersiap untuk memulai kegiatan selama satu hari penuh dari pagi sampai malam nanti.

Tepat pukul 8 pagi, acara dimulai dengan sambutan – sambutan dan serangkaian acara pembukaan, kemudian kami berkenalan dengan adik – adik dimana kami akan belajar dan bersenang – senang selama satu hari penuh. Aku kebetulan kebagian mengajar kelas 1 sd bersama rekan rekan pengajar lainnya yaitu ka ayu, ka rima dan ka wildan. Kebetulan ka ayu sudah berkenalan setelah sebelumnya kami satu kelas di Kediri dan yang lainnya baru kenal di kegiatan ini. selama kegiatan mengajar kami menghabiskan waktu bersama 31 orang anak kelas satu dimana kami tidak belajar didalam ruang kelas karena bangunan sekolah mereka sedang direnovasi dan kami belajar di ruang kelas ! iya ruang kelasnya yaitu lapangan bola. Kami belajar tentang profesi apa saja, cita-cita, dan bermain, serta bernyanyi bersama. Aku sangat menikmati hari dimana ketika aku bisa tertawa bersama mereka.

20151031_071806
Perisapan pembukaan
20151031_072032
Upacara Pembukaan
20151031_072417
Upacara pembukaan
20151031_072227
Keep the Indonesia Flag’s flying high. high. high.

Selama proses mengajarkan mereka, bukan aku yang mengajar mereka. Tapi, merakalah yang memberikan aku banyak pelajaran untuk hal yang sangat sulit di ukur dalam hidup ini. kebahagiaan. Itu hal yang sulit diukur dalam hidup ini karena setiap kita memiliki definisi yang berbeda tentang hal itu.

“kak… tadi aku mau engga masuk sekolah, karena malas. Tapi, kalo aku gak masuk sekolah aku rugi karena gak ketemu sama kaka dan gak bisa bersenang-senang.” Just a one shot ! kadang aku mikir buat sekolah dulu masih sering malas, sampai kuliah aja kadang masih suka cabut-cabutan. Aku memiliki banyak fasilitas yang menunjang untuk pendidikanku tapi mereka ? jangan pikirkan gadget, laptop, atau hal-hal mewah lainnya buat ruang kelas saja mereka harus memberikan sekat pembatas agar tahu bila mereka kelas berapa. Sepatu untuk bersekolah saja beralaskan sandal jepit, baju sekolah? malah ada yang pake baju bola karena belum punya baju sekolah. entah apa yang aku rasakan yang pasti merekalah yang memberi pelajaran kepadaku lebih banyak. Andai saja aku tidak ikut kegiatan ini, andai saja aku memilih untuk dirumah, andai saja aku memilih duduk di depan laptop merenung melihat situs pencarian kerja. Aku tidak akan bisa mendapatkan pelajaran yang bahkan orang dewasa sekali pun belum tentu bisa mendefiniskannya. Mereka memberikan realita yang aku sendiri masih sulit untuk mencarinya. Mereka membuka mataku bahwa kebahagiaan itu sederhana dan setiap jejak perjalanan yang aku lalui tidak selalu hanya untuk aku sendiri saja. Mereka mengajarkanku bahwa perjalanan tidak melulu untuk bersenang-senang, melainkan melihat juga realita kesulitan. Mereka mengajarkanku bahwa perjalanan bukan sejauh mana kaki melangkah melainkan sejauh apa tangan ini berbuat untuk perubahan. Mereka mengajarkan bahwa perjalanan ini juga bukan unjuk kemampuan peleserian ke berbagai tempat indah dan melupakan apa yang sesungguhnya dilewatkan oleh setiap pejalan melainkan apa yang akan kita tinggalkan untuk mereka. Mereka memberi senyuman untuk setiap hari yang melelahkan. Mereka memberi canda tawa dengan kesederhanaan mereka. Dan mereka memberikan harapan bahwa hari esok akan lebih baik.

IMG-20151103-WA0013
Bangunan kami ?
IMG-20151103-WA0011
Tempat belajar sementara selama proses perbaikan gedung sekolah
IMG-20151103-WA0010
Bangunan sekolah kami
IMG-20151103-WA0009
Terima kasih bambu atas topangannya
IMG-20151103-WA0000
Apa profesi kamu?
IMG-20151102-WA0023
Salah satu teman belajar kami
IMG-20151104-WA0002
Tim ku dan kelas 1 MI CIherang
IMG-20151103-WA0008
Kecerian anak-anak
IMG-20151104-WA0000
Tinggikan langitku. sampaikan usahaku
IMG-20151103-WA0016
Our kiddos 😀

Selepas mengajar tak lupa kami memberikan beberapa bingkisan yang kami bawa kepada mereka. Dengan penuh suka cita dan tawa riang, mereka menerima dengan bahagia.  Pada siang hari selepas makan siang dan istirahat sejenak dilanjutkan dengan kegiatan periksa kesehatan gratis dan pemberian informasi tentang pola hidup bersih dan sehat. Karena untuk kegiatan tersebut sudah dibagi lagi kelompoknya dan mayoritas teman-teman dibidang kesehatan yang menangani jadi aku memtuskan untuk beristirahat sejenak hingga sore harinya. Melihat warga main bola dan terkadang masih main bersama anak-anak yang kami ajar pagi harinya. Kebetulan acara sore hari memang acara bebas. Jadi kami gunakan untuk berfoto, bercengkarama bahkan ikut bermain bola bersama warga sekitar.

Malam hari kegaitannya adalah nonton bersama dengan warga di lapangan bola dan kami ada acara internal bagi para volunteer dan panitia penyelengara. Pemandangan malam hari sungguh luar biasa. Tak ada penerangan di jalan, jadi kami menggunakan senter ketika hendak keluar. Lampu ada hanya disetiap rumah warga itu pun tidak semua teraliri. Jadi satu satunya penerangan ? Bulan dan Bintang-bintang. Yohohoho. Asik abiiiis. Rangkaian acara hari ini selesai dan kami bersiap untuk beristirahat. Tapi tunggu dulu aku belum mandi seharian jadi mumpung malam dan tidak ada warga yang diluar rumah jadi aku memutuskan untuk berbenah diri selepas kegiatan seharian. Dan agak horror memang mandi di tempat yang terbuka dimana sekelilingnya hutan.

IMG-20151101-WA0017
Bakar!!!
IMG-20151101-WA0019
Night Thinker Daydreamer

Keesokan harinya kami melakukan acara penutupan dan pamit meninggalkan Ciherang. Ada rasa haru ketika kami meninggalkan Ciherang, semua mata penduduk tertuju pada kami dan anak anak MI Ciherang mengantar kepergian kami sampai mereka tidak bisa lagi mengejar truk yang membawa kami. Tidak banyak yang kami tinggalkan tapi aku berjanji suatu saat akan membawa perubahan yang lebih baik dilain kesempatan, ditempat yang mungkin berbeda dengan pengalaman yang aku bawa dari Ciherang ini.

IMG-20151103-WA0012
Mari Sarapan
IMG-20151103-WA0004
Penasaran sama bus ? No. way ! this is Tronton
IMG-20151101-WA0008
Siap siap jalan jalan

Selepas meninggalkan Ciherang saatnya mengunjungi pantai Tanjung Lesung. Tapi entah karena sudah pernah mengunjungi atau memang aku merasakan bahwa perjalanan yang sesungguhnya sudah selesai kami lalui jadi perasaan aku biasa saja tidak se excited waktu akan berangkat ke Ciherang. Tapi aku masih mengikuti kegiatan yang diselenggarakan dengan baik oleh teman-teman panitia dan kita masih masih mendapatkan keseruan bareng bareng teman volunteer maupun panitia. Dan sekali lagi aku menyadari bahwa Pantai Tanjung Lesung sudah jauh berbeda dari waktu aku mengunjungi pertama kali. Tidak bisa dibilang lebih baik, entah siapa yang merubahnya, alamkah atau manusiakah. Tapi yang pasti selalu meyenangkan untuk selalu belajar dari sebuah perjalanan.

IMG-20151101-WA0016
Rombongan bu haji :p
IMG-20151101-WA0013
Selfie Expert
IMG-20151101-WA0011
Time for holiday
IMG-20151102-WA0002
Challenge
IMG-20151102-WA0000
Challenge
IMG-20151102-WA0012
Challenge

Kami kembali ke Jakarta dengan selamat, dan sebagian teman teman yang dari luar kota bersiap untuk kembali pulang ke kampung halaman mereka. Sangat berkesan untuk belajar langsung dari alam dan lingkungan sekitar, perbedaan pengalaman dan pemikiran menjadi bumbu perjalanan untuk memperkaya hidup. Aku pikir selepas kuliah, aku akan mati oleh realitas hidup. Nyatanya, kemauan kita untuk bergeraklah yang membuat kita tidak akan mati. Selalu ada wadah untuk meningkatkan kualitas diri. Hanya cerita ini yang mampu aku tulisakan dari perjalanan yang memunculkan banyak rasa untuk merubah kearah yang lebih baik.

Thankyou so much !!!
Thankyou so much !!!

Terima kasih teman-teman MI Ciherang, Terima kasih teman-teman panitia dan Volunteer untuk pengalamannya dan perbincangannya selama perjalanan. Terima kasih untuk ilmu yang kalian berikan. Terima kasih. Semangat membangun Bangsa. Sampai jumpa di DD  Voluntrip 2. seriusan ada ? Serius, jangan lupa untuk sering cek website DD. 🙂

Salam Hangat,

 

Rifqi Mochtar Latif

 

Mlaku-Mlaku: 30Okt – 1 Nov 2015

Ditulis: Jakarta 10 March 2016

*Nb: Foto dari berbagai sumber

9 thoughts on “Sisi Lain Sebuah Perjalanan: Belajar di Ciherang, Banten.”

  1. Ikut prihatin dengan kondisi pemukimannya Mas. Tampak luar Banten memang sekilas maju, tapi di dalamnya banyak yang masih tertinggal. Saya kadang mikir, kok gak maju-maju selepas dari Jawa Barat. Kan aneh. Tidak heran dan kaget ketika gubernur terdahulu tertangkap karena korupsi dan dinasti.

    Banten termasuk contoh ketimpangan yang aneh di Pulau Jawa. Saya miris pas dulu jalan-jalan ke Merak, Serang, apalagi Banten Lama yang semrawut itu.

    Mudah-mudahan tulisan ini menggerakkan hati nurani, khususnya bagi pemangku kebijakan dan wewenang yaa. Siapa yang tidak ikut trenyuh lihat bangunan rumah warga, sekolah, dan senyum anak-anak sekolah itu? 🙂

    1. iya mas, saya juga heran sekali, beberapa tahun lalu saya pernah berdiskusi dengan teman saya mengenai ketimpangan ekonomi memang jelas banget kelihatan bila secara perhitungan ekonomi cukup timpang. iya mas semoga saja akan menjadi lebih baik, untuk sementara saya hanya bisa bantu lewat tulisan 🙂

  2. Tulisannya menyentuh dan keren banget. Banyak yang ingin saya sampaikan, tapi yang paling awal tentunya adalah sebuah ucapan terima kasih karena sudah mau berbagi ini dengan seluruh pembaca. Tak perlu pergi jauh untuk belajar soal ketimpangan ya, bahkan di halaman belakang rumah sendiri ketimpangan itu sebenarnya ada. Namun ironisnya, ketika hal itu masih ada di halaman belakang istana, bagaimana mungkin bisa menyelesaikan ketimpangan di tempat yang jauh-jauh? #eh *kok jadi pesimis gini sih*.
    Semoga tulisan ini dibaca banyak orang yaa Mas, sampai ke petinggi-petinggi yang mengaku penyelenggara Negara itu. Sumpah saya terharu melihat senyum anak-anak itu, tulus banget senyumnyaa! Semoga mereka bisa tumbuh dan jadi kebanggaan nusa dan bangsa :amin.
    Akhir kata, Tuhan selalu punya cara untuk membuat kita belajar, ya? :hihi.

    1. terima kasih untuk apresiasinya. jujur hanya ingin berbagi kisah perjalanan hehe, sayangnya kalo kita pesimis mungkin mereka bisa jadi lebih parah, jadi lebih baik kita sama sama optimis buat membangun dan memberikan kontribusi walaupun kecil kepada negara kita ini ! Ya, Tuhan selalu memberikan pelajaran dari hal yang tak pernah terpikirakan sebelumnya hehe

  3. Assalamualaikum ..

    Mas boleh saya tau contact person salah satu pengajar di MI Ciherang ??
    Saya perwakilan dari salah satu komunitas amal ingin berkegiatan berbagi sedikit kebahagiaan di MI Ciherang ..

    bisa email ke : thaty.hrt@gmail.com

    Terima kasih
    Waasalamualaikum

    1. haaaaay walaikumsalam. aduh maaf banget baru respon. saya kebetulan salah satu pengajar waktu itu tapi untuk keterangan lebih lanjut kamu bisa menghubungi dompet duafa volunter bisa di cari di instagram. terima kasih 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *