Tidak terasa bila tugas yang diberikan Universitas untuk mengabdi pada masyarakat mencapai titik puncaknya. Bersama dengan sembilan orang teman dari salah satu universitas di jawa tengah, kami melakukan pengabdian di desa Madukara, Kecamatan Madukara, Kabupaten Banjarnegara. Bukan tugas ringan memang untuk mengabdikan diri pada masyarakat, tetapi atas kerjasama semua pihak kami dapat menyelesaikan tugas kami dengan baik. Di hari-hari terakhir di Banjarnegara kami sepakat untuk mengadakan sedikit refreshing ke salah satu tempat yang cukup terkenal dengan festival pemotongan rambut gimbal dan jazz atas awan. Yap, dataran tinggi Dieng adalah jawabannya. Kebetulan, Banjarnegara dan dataran tinggi Dieng tidak terlalu jauh hanya sekitar satu setengah jam menggunakan kendaraan pribadi. Banyak tempat wisata di sekitar wilayah dataran tinggi Dieng dan kami sepakat untuk berkunjung ke salah satu tempat melihat Sunrise terbaik di negeri ini, Puncak dari bukit Sikunir itulah tujuan kami.

Semenjak pagi kami sibuk menentukan akan menggunakan kendaraan apa ke bukit Sikunir karena bila menggunakan motor, walaupun cukup untuk mengangkut kami tapi tetap saja lumayan membahayakan karena kami akan berangkat pada malam hari. Memang pada dasarnya kami datang secara baik baik ke desa Madukara dan kami juga tinggal di rumah pak Kepala Desa, akhirnya kami mendapatkan kendaraan terbaik yaitu sebuah mobil travel beserta supir yang cukup untuk menampung kami bersepuluh menuju bukit Sikunir dan itu semua kami dapatkan secara gratis karena yang punya mobilnya adalah bapak Kepala Desa sendiri (hehehe).

Kami berjalan sekitar pukul setengah 11 malam dengan laju kendaraan yang cukup santai, menembus dingin malamnya udara perjalanan kami sampai di tracking point bukit sikunir sekitar pukul 12 malam. Karena kami membawa barang seadanya dan kami baru akan tracking sekitar pukul 3 pagi jadi kami memutuskan untuk berkemah di depan danau yang memang menjadi camp spot dengan menyewa dua buah tenda dan beberapa ikat kayu bakar yang digunakan untuk menghangatkan tubuh kami.

Bulan Juli-Agustus adalah puncak suhu udara terdingin di bukit Sikunir. Dingin udara malam di tracking point saja sudah mencapai suhu 6 derajat celcius. Kami memesan kopi disalah satu warung belum ada 5 menit kami memesan, kopi yang tadinya panas mendadak menjadi hangat cenderung dingin.

SAM_2607
Menghangatkan tubuh di suhu 6 derajat celcius

SAM_2602

Tepat pukul 3 pagi kami melakukan tracking ke puncak bukit Sikunir. Sepanjang jalan memang gelap dan kami hanya mengandalkan sebuah sinar yang dipancarkan melalui senter. Tracking ke puncak sikunir tidak memakan waktu yang lama hanya sekitar 45 menit kami telah mencapai puncak, ini pun masih terbilang lama karena memang sebagian besar kami baru pertama kali melakukan tracking, jadi banyak berhentinya.

SAM_2657
Persiapan tracking puncak Sikunir

Sampai di puncak Sikunir kami terlalu dini yaitu sekitar pukul 4 dan kebetulan masih sangat sedikit orang yang berada dipuncak tetapi ada beberapa orang yang nge-camp di puncak Sikunir sehingga mereka mempunyai perapian untuk menghangatkan tubuh. Akhirnya, kami memutuskan untuk menumpang menghangatkan diri sembari menunggu matahari terbit sekitar pukul setengah 5 pagi matahari sudah memunculkan rona jingga kemerahan dan gunung-gunung berbaris dengan gagah menopang langit yang seakan malas untuk merubah warnanya menjadi lebih cerah.

SAM_2670
Wait for the Golden Sunrise
2015-11-29 21.51.23
The Golden Sunrise Puncak Sikunir

Setelah menikmati The Golden Sunrise dari puncak Sikunir tentunya kami mengabdikan momen-momen kebersamaan kami setelah selama 35 hari bersama untuk mengabdi pada masyarakat di Desa Madukara. akhirnya kami mendapatkan liburan colongan di hari terakhir tugas kami. oh iya, tenang sampah dari kertas yang kami jadikan tulis menulis kami bawa turun kembali dan tetap menjaga kebersihan salah satu tempat yang indah ini.

SAM_2702
Salam dari keluarga Cumawir
SAM_2713
Gurls of Cumawir

Tuhan sungguh indah dalam melukis alamnya, semesta mendukung untuk dinikmati pada pagi itu. Rasa syukur dapat berdiri disalah satu tempat melihat Sunrise terbaik di negeri ini terlaksana sudah. Kami mendapatkan momen terbaik untuk melakukan perjalanan dan menikmati keindahan bukit dan barisan gunung yang berjejer bermegah-megahan. Sekitar pukul 7 pagi kami memutuskan untuk turun kembali turun ke camp spot. dalam perjalanan turun tentunya aku tidak mau ketinggalan untuk mengabadikan beberapa gambar.

2015-11-29 21.46.42
Mau berguling saja rasanya sampai bawah
Screenshot_2015-11-29-21-50-14-1
pemandangan ketika turun
Screenshot_2015-11-29-21-47-21-1
Autumn in hill
2015-11-29 21.52.13
Camp Spot tepi danau

kami sampai di camp spot sekitar pukul setengah 8 pagi dimana matahari mulai meninggi, lumayan menghangatkan tubuh pagi itu. jujur saja suhu udara tidak naik secara drastis walaupun matahari telah muncul mungkin masih sekitar 10 derajat. kami beristirahat sejenak ada yang beristirahat dengan tidur tapi ada juga yang jajan di warung warung yang menyediakan indomie, kopi, minuman hangat lainnya, gorengan yang masih panas pun kami beli lalu langsung dimakan, tidak berasa panas sama sekali karena mungkin udara yang masih cukup dingin.

Sebenarnya masih banyak foto menarik menurutku yang aku mau share tapi ada satu kejadian dimana memory card-ku tidak bisa terbaca di laptop jadi aku hanya mengandalkan foto foto yang ada untuk menggugah kalian melihat indahnya The Golden Sunrise di puncak Sikunir.

oh ya, satu lagi. apabila kalian mengunjungi daerah wonosobo jangan lupa untuk mencicipi makanan khas yang bernama “Mie Ongklok” itu juara banget rasanya !

Terima kasih untuk Keluarga Cumawir dan cerita indah selama mengabdi pada masyarakat di Desa Madukara, Kecamatan Madukara, Kabupaten Banjarnegara. Terima kasih pula pada semua pihak yang mendukung demi kelancaran pengabdian kami selama disana, sungguh itu merupakan cerita terbaik yang pernah aku alami. Terima kasih untuk kebaikan, pengalaman dan pembelajarannya.

Jakarta, 29 November 2015

Salam Hangat,

 

Rifqi Mochtar Latif

2 thoughts on “The Golden Sunrise: Salam Perpisahan Keluarga Cumawir.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *